Politik Presiden Soeharto

Politik Presiden Soeharto

Soeharto  atau lebih dikenal dengan pak Harto adalah presiden kedua RI. Soeharto mendapatkan kekuasaan di tengah adanya krisis darurat dan pertumpahan darah. Di masa pemerintahan Soekarno dia banyak membangun pemerintahan Antagonistik yang sangat berbahaya dan terdiri dari banyak fraksi yang ingin memegang kekuasaan.

Puncaknya dimulai dari penculikan dan pembunuhan 7 pimpinan utama militer di Indonesia. Pada masa itu Suharto sebagai pewira tinggi menyatakan PKI adalah dalang di balik semua hal tersebut sehingga banyak terjadi pembantaian di sumatra, jawa, dan bali. Maupun fakta tidak begitu jelas namun pada masa tersebutlah Soeharto muncul sebagai pemegang kekuasaan di tengah kekacauan pada tahun 1960an.

Politik Orde Baru Presiden Soeharto Membangun Pemerintahan Otoriter

Politik Orde Baru Presiden Soeharto Membangun Pemerintahan Otoriter

Pada Tahun 1966, Indonesia masih dalam keadaan terguncang tepat pada tanggal 11 Maret 1966 Soekarno dipaksa untuk menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang menjadi sebuah alat pemindahan kekuasaan kepada Soeharto. Sejak dari saat itulah peran Soekarno mulai melemah dan digantikan oleh Soeharto sebagai presiden di tahun 1968.

Pada masa tersebut dikenal dengan orde baru. Dimasa itu Soeharto berfokus pada ekonomi dan pangan. Selain, itu dia membuka pintu untuk para investor asing. Di masa tersebut banyak dana bantuan asing yang masuk ke Indonesia dan tentunya dimanfaatkan dengan baik oleh Presiden kedua untuk membangun infrastruktur.

Dalam Masa tersebut Soeharto menjalankan Depolitisasi dimana para menteri tidak diizinkan membuat kebijakannya sendiri. Dalam membuat kebijakan para menteri harus membicarakannya kepada atasan. Partai politik Golkar digunakan oleh Soeharto sebagai kendaraan parlementer. Di masa tersebut hanya ada 3 partai diantaranya Golkar, PPP, dan PDI.

Dalam sepak terjang di bidang politik pada akhirnya di tahun 1970. Produksi Minyak domestik yang meingkat memastikan pendapatan negara semakin berlimpah. Pendapatan ini digunakan juga untuk infrastruktur dan pengentasan kemiskinan.

Bisa dikatakan pada tahun 1980 Soeharto mulai berada di puncak kekuasaannya. Di tahun tersebut hampir semua pemilu di adakan selalu dimenangkan oleh Soeharto. Berakhirnya masa orde baru di tahun 1998 dimana pihak oposisi menjadi lebih kuat dan mengharuskan presien Soeharto turun dari tahtanya.

Demikianlah dengan hal yang sudah kami sampaikan semoga saja bisa membuat diri kamu bisa mendapatkan sedikit informasi mengenai keadaan politik di zaman soeharto. Semoga saja dengan hal yang sudah kami sampaikan ini bisa bermanfaat untuk kamu.